RSS

laporan PKL Hidroponik

PENDAHULUAN

Hidroponik merupakan salah satu teknik pertanian modren yang sering terdengar dalam dunia pertanian khususnya dalam ruanglingkup Fakultas Pertanian, namun praktikum atau pembelajaran tentang hidroponik masih kurang sehingga menimbulkan inisiatif bagi penulis untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan tentang hidroponik sayuran untuk menambah wawasan tentang teknik bercocok tanam. Selain itu sayuran merupakan salah satu tanaman pangan penting bagi ketahanan pangan nasional. Tanaman ini memiliki karagaman yang luas dan menjadi sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin, dan berbagai mineral penting bagi tubuh. Produksi di Indonesia mengalami peningkatan dengan laju peningkatan sekitar 7 – 22,4% per tahun. Sedangkan konsumsi sayuran per tahun tercatat 44 kg/kapita/tahun (Suwandi 2009)

Peningkatan produksi sayuran di Indonesia umumnya disebabkan adanya pembukaan areal tanam baru. Namun, pembukaan areal tanam baru dapat menimbulkan peningkatan biaya produksi. Selain itu penggunaan input kimiawi (pestisida) yang tidak terkontrol menyebabkan produksi dan kualitas sayuran menurun. Oleh karena itu diperlukan teknik budidaya yang memerhatikan penggunaan input sesuai kebutuhan tanaman (Suwandi 2009).

Salah satu solusi teknik budidaya yang dapat memenuhi input sesuai kebutuhan tanaman adalah teknik budidaya tanaman pada media tanam selain tanah dengan pemberian komposisi dan jumlah unsur hara yang tepat. Budidaya tanaman menggunakan teknik ini dapat menghasilkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas hasil yang terjamin (Sudarmodjo 2008)

Sejarah perkembangan teknik hidroponik dimulai dengan penelitian yang berkaitan dengan kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Dua ilmuan, Sach dan Knop, berhasil menunjukan bahwa suatu tanaman dapat hidup dalam media inert (tidak menimbulkan reaksi kimia yang menggangu) yang diberikan sebuah larutan unsur hara. Penelitian ini menunjukan bahwa larutan yang mengandung unsur nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) merupakan unsur yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman (makronutrien). Penelitian lebih lanjut menunjukan tanaman juga memerlukan unsur-unsur seperti besi (Fe), klorin (CI), mangan (Mn), boron (B), seng (Zn), tembaga (Cu), dan molybdenum (Mo) dalam jumlah kecil (mikronutrien) (Resh 1980).

Pengetahuan ini menyebabkan penelitian-penelitian lain mulai difokuskan utuk membuat suatu larutan yang dapat memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Beberapa formula unsur hara tanaman berhasil ditemukan oleh para ahli seperti Tollens (1882), Tottingham (1914), Shieve (1915), Hoagland (1919), Trelease (1933), Arnon (1938), dan Robbins (1946). Formula unsur hara tanaman yang ditemukan tersebut masih digunakan di laboratorium sampai sekarang (Resh 1980).

Penggunaan teknik budidaya tanaman secara hidroponik memiliki barbagai keuntungan. Roberto (2004) menyatakan beberapa keuntungan yang diperoleh dari penggunaan teknik ini adalah mengeliminasi serangan hama, cendawan, dan penyakit asal tanah sehingga dapat meniadakan penggunaan pestisida; mengurangi penggunaan areal tanam yang luas; meningkatkan hasil panen serta menekan biaya produksi yang tinggi. Selain itu teknik dapat mempercepat waktu panen, penggunaan air dan unsur hara yang terukur, dan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas hasil yang terjamin (Sudarmodjo 2008).

Semua keuntungan yang diperoleh melalui teknik budidaya hidroponik sangat ditentukan oleh kandungan unsur hara makro maupun mikro. Bartanam dengan teknik hidroponik akan memudahkan para petani dalam mengatur kebutuhan unsur hara yang diperlukan suatu tanaman secara langsung. Pengaturan secara kebutuhan input tanaman secara langsung dapat mengoptimalkan potential genetic tanaman  yang dibudidaya dan peningkatan hasil panen (Resh 1980, Sudarmodjo 2008).

Tujuan Praktek Kerja Lapang

Tujuan pelaksanaan dari Praktek Kerja Lapang (PKL) ini yaitu:

  1. Mengetahui budidaya tanaman dengan sistem hidroponik.
  2. Mengetahui tentang tekhnik dan jenis – jenis hidroponik.
  3. Mengaplikasikan teori – teori yang dipelajari di bangku kuliah mengenai tanaman hidroponik.
  4. Menambah wawasan tentang budidaya tanaman dengan sistem hidroponik..

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Bayam (Amaranthus Sp.)

            Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman sayuran yang termasuk dalam divisi Magnoliophyta, kelas Magnolipsida, ordo Caryophyllales, family Amaranthaceae, dan genus Amaranthus. Genus ini terkenal dengan pertumbuhan generatif (menghasilkan benih). Namun, ada beberapa spesies yang digunakan sebagai tanaman sayuran daun, seperti A. tricolor, A. lividus, A. gangeticus, A. blitium, A. hybrydus, dan A. viridis (Susila 2006).

            Bayam berasal dari Amerika Tropic. Sampai sekarang, tumbuhan ini sudah tersebar di daerah tropis dan subtropics seluruh dunia. Di Indonesia, bayam dapat tumbuh sepanjang tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-2.000 mdpl (meter dari permukaan laut), tumbuh di daerah panas dan dingin, tetapi tuumbuh lebih subur di dataran rendah pada lahan terbuka yang udaranya cukup panas (Susila 2006).

            Tanaman ini merupakan herba setahun dengan perawakan tegak atau agak condong. Tinggi 0,4-1 m, dan bercabang. Batang lemah dan berair. Daun bertangkai, berbentuk bulat telur, lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing, serta warnanya hijau, merah, atau keputihan. Bunga dalam tukal yang rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan. Bunga berbentuk bulil (Susila 2006).

            Bayam yang dijual di pasaran dan biasa dikonsumsi sebagai sayuran dikenal dengan bayam cabutan atau bayam sekul. Terdapat tiga varietas bayam yang termasuk ke dalam Amaranthus tricolor, yaitu bayam hiijau biasa, bayam merah (Blitum rubrum), yang batang dan daunnya berwarna merah, dan bayam putih (Blitum album), yang warna hijau keputih-putihan. Selain A. tricolor, terdapat bayam jenis lain, seperti bayam kakap (A. hybridus), bayam duri (A.spinosus), dan bayam kotok/bayam tanah (A.blitum). Jenis bayam yang sering dibudidayakan adalah A. tricolor dan A.hybrizdus.  sedangkan jenis bayam lainnya tumbuh liar (Susila 2006).

Hidroponik

Hidroponik berasal dari Bahasa Yunani, yaitu hydro yang berarti air dan ponus berarti daya. Sehingga hidroponik yaitu memberdayakan air, yang secara umum dapat diartikan suatu sistem pertanian tanpa menggunakan tanah tetapi air yang berisi nutrisi. Hidroponik juga merupakan ilmu pengetahuan mengenai budidaya tanaman pada suatu media selain tanah dan menggunakan campuran nutrisi essensial yang dilarutkan dalam air. Pada hidroponik ini kebutuhan yang paling utama adalah ketersidiaan air harus cukup.

Hidroponik merupakan suatu teknologi modern di bidang pertanian dalam teknik budidaya yang menggunakan nutrisi pokok yang diperlukan tanaman utnuk memperoleh produk yang berkualitas dan bebas dari penggunaan organisme pengganggu tanaman yang berasal dari tanah. Sistem hidroponik yang berkembang pertama kali di Indonesia adalah hidroponik substrat, yaitu sistem yang menggunakan media selain tanah dan steril, seperti arang sekam, pasir, serbuk gergaji, sabuk kelapa dan lain-lain.

Tanaman hidroponik dapat tumbuh dengan baik apabila lingkungan akar memperoleh cukup udara, air dan hara. Karakteristik media tanam hidroponik yang baik harus dapat menyerap dan menghantarkan air, tidak mempengaruhi pH air, tidak berubah warnah, dan tidak mudah lapuk atau busuk.

         Terdapat 6 dasar dari sistem hidroponik, yaitu : Sistem Sumbu (Wick), Sistem Kultur Air (Water culture), Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow / Flood and Drain), Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation), Sistem NFT (Nutrient film technique), dan Sistem Aeroponik.

  1. A.    Sistem Sumbu (Wick)

Sistem Sumbu(Wick) (Gambar 1) adalah tipe hidroponik yang paling sederhana. Sistem ini adalah sistem pasif, yang artinya tidak ada sistem yang bergerak. Larutan nutrisi diserap oleh media tanam dari tandon menggunakan sumbu (memanfaatkan daya kapilaritas sumbu). Sistem ini dapat menggunakan bermacam-macam media tanam, diantaranya: Perlite, Vermiculite, Pro-Mix, dan Sabut Kelapa.

Gambar 1. Sistem Sumbu (Wick)

  1. B.     Sistem Kultut Air (Water Culture)

 Sistem Kultur Air (Water culture) (Gambar 2) adalah sistem yang paling sederhana dari semua sistem hidroponik aktif. Penopang tanaman biasanya dibuat dari styrofoam dan mengapung langsung di atas permukaan larutan nutrisi. Sebuah pompa udara menyediakan udara melalui batu angin yang membuat banyak gelembung udara dalam larutan nutrisi dan menyediakan oksigen bagi akar tanaman.

Gambar 2. Sistem Water Culture (kultur air)

  1. C.    Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow/Flood and Drain)

Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow / Flood and Drain) (Gambar 3) adalah sistem yang cocok untuk digunakan bersama berbagai macam media tanam. Seluruh wadah pertumbuhan dapat diisi dengan batu-batuan, kerikil, atau butiran rockwool. Kebanyakan orang menggunakan pot-pot satuan yang diisi dengan media tanaman, hal ini memudahkan untuk memindahkan tanaman dan memasukkan tanaman ke dalam sistem.

Gambar 3. Pasang Surut (Ebb and Flow / Flood and Drain)

  1. D.    Sistem Irigasi Tetes

 Sistem Irigasi Tetes (Gambar 4) merupakan sistem yang paling luas digunakan di dunia. Pengoperasiannya mudah, pengatur waktu mengontrol pompa dalam air. Pengatur waktu menyalakan pompa dan larutan nutrisi menetes pada pusat tiap tanaman dari selang penetes kecil. Pada sistem tertutup, kelebihan larutan nutrisi yang mengalir akan ditampung kembali ke dalam tandon untuk dipakai kembali. Untuk sistem terbuka larutan nutrisi yang berlebihan tidak diserap kembali.

 

Gambar 4. Irigasi Tetes (Drip irrigation)

  1. E.     Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

 Sistem NFT (Nutrient Film Technique) (Gambar 5) adalah sistem yang dipikirkan orang ketika mereka mendengar kata hidroponik. Sistem NFT mempunyai aliran larutan nutrisi konstan, sehingga tidak lagi dibutuhkan pengatur waktu untuk menyalakan pompa rendamnya. Larutan nutrisi dipompakan ke wadah pertumbuhan (umumnya berbentuk tabung) kemudian mengalir melalui akar tanaman, dan kembali ke tandon.

Umumnya tidak dipakai media tanam lain selain udara, sehingga menghemat penggantian media tumbuh setiap selesai panen satu produk. Umumnya tanaman ditahan oleh keranjang plastik dengan akar menjuntai ke dalam larutan nutrisi.

Gambar 5. Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

  1. F.  Sistem Aeroponik

Sistem Aeroponik (Gambar 6) adalah sistem hidroponik yang menggunakan teknologi tinggi. Seperti pada sistem NFT diatas, media tanamnya udara. Akar-akar menggantung di udara dikabutkan oleh larutan nutrisi. Pengabutan ini biasanya dilakukan setiap beberapa menit sekali. Karena akar-akar terekpos di udara seperti pada sistem NFT, akar-akar bisa cepat mengering jika pengaturan pengabutan terganggu.

Sebuah timer mengontrol pompa larutan nutrisi seperti pada tipe-tipe sistem hidroponik lainnya yaitu sistem aeroponik  memerlukan timer  dengan perputaran singkat yaitu beberapa detik dalam dua menit sekali.

 

Gambar 6. Sistem Aeroponik

            Hidroponik terutama dengan sistem aeroponik mempunyai prospek yang sangat baik karena dapat mempersingkat umur panen dan produktivitas tanaman cukup tinggi (Sutiyoso,2003). Selain itu hemat dalam pemakaian air jika dikelola secara baik dan benar. Selain memiliki keunggulan, sistem hidroponik terutama sistem aeroponik memiliki kerugian, seperti (anonim, 2008) :

  1. Membutuhkan biaya tambahan untuk pengendali waktu, sistem irigasi, pompa, serta jadwal perawatan, yang jumlahnya cukup besar yakni mencapai jutaan bagi petani (growers) pada umumnya.
  2. Pada sistem aeroponik konvensional yang menggunakan pompa dan nozzle untuk mendapatkan efek penyemprotan spray, tekanan pompa yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan mineral pada nozzle dan penyumbatan, sedangkan bila tekanan pompa rendah akan menyebabkan penurunan kecepatan penyerapan nutrisi.
  3. Pada saat nozzle tersumbat atau terjadi kerusakan sistem aeroponik, maka tanaman mengalami kerusakan dalam pertumbuhannya.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang

Praktek Kerja lapang ini dilakukan di Perusahaan Hidroponik Parung Farm Desa Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Praktek umum ini dimulai sejak tanggal 27 Juli hingga Tanggal 11 September 2011.

Metode Pelaksanaan Praktek Kerja lapang

Metode yang dilakukan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah sebagai berikut :

  1. Praktek Lapang

Dilakukan dengan mengikuti kegiatan sehari – hari yang dilakukan di Perusahaan Parung Farm.

  1. Pengamatan Langsung

Melihat dan mengamati langsung kegiatan sehari – hari selama Praktek kerja lapang.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada petugas lapangan atau keryawan – karyawan

Perusahaan Parung Farm sesuai bidang masing – masing atau informasi yang didapat dari penjelasan pembimbing lapang.

  1. Studi Pustaka

Informasi yang dapat dikumpulkan secara tertulis meliputi daftar nama – nama karyawan, sejarah berdirinya Parung Farm, struktur organisasi, lokasi, dan ruang lingkup lingkungan usaha. Data tersebut dapat diperoleh dari arsip yang dimiliki oleh Parung Farm maupun studi literature yang berhubungan dengan topik Praktek Kerja Lapang

  1. Pelaporan

Menginterpresentasikan data dan informasi yang diperoleh selama kegiatan Praktek Kerja Lapang untuk memperoleh gambaran Teknik dan Jenis – jenis hidroponik dan mempersembahakanNya dalam bentuk laporan.


 

KEADAAN DAN GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Parung Farm

Parung Farm didirikan pada akhir tahun 1998 oleh Bapak Soebagyo Karsono dan Bapak Soedibiyo Karsono. Kebun Hidroponik yang baru didirikan itu kemudian dipercayakan kepada Ir. Haryadi sebagai ketua dan Agung Wahyudi sebagai wakilnya. Awalnya Parung Farm didirikan dengan nama Kebun Hidroponik Sayur Segar yang hanya bergerak di bidang hidroponik sayuran, baik sayuran daun maupun sayuran buah. Pada Tahun 2000 kebun hidroponik mengembangkan usahanya untuk mengusahakan tanaman hias yaitu anggrek, sehingga pada awal tahun 2001 perusahaan tersebut berubah nama menjadi Parung Farm.

Parung Farm terdiri atas dua perusahaan yaitu PT. Kebun Sayur Segar dan CV. Kebun Anggrek. Pada awalnya perusahaan ini bergerak di bidang pelatihan dan produksi tanaman sayuran, hidroponik buah, hidroponik hortikultura, aeroponik dan kultur jaringan untuk budidaya anggrek. Usaha ini dimulai dari penelitian dan uji coba penanaman tanaman secara hidroponik yang cocok dikembangkan di daerah parung. Penanamannya di ilakukan di dalam greenhouse seluas 400m2 yang ditanami 750 tanaman meliputi 150 tanaman mentimun jepang varietas spring swallow, 150 tanaman melon varietas eagle, 150 tanaman paprika varietas Spartacus dan 300 tanaman tomat varietas recent. Dikarenakan suhu yang kurang mendukung produksi tanaman tersebut dilakukan di daerah Sukabumi, sedangkan tanaman yang diproduksi di Parung meliputi tanaman bayam, kangkung, petsai dan caisim.

Pelatihan budidaya tanaman hidroponik dilakukan setiap Sabtu dan Minggu. Pelatihan ini ditujukan bagi karyawan swasta, pegawai negeri dan pelajar dengan tema yang berbeda ditiap minggunya. Selain itu, Parung Farm juga membuka konsultasi di bidang pertanian. Namun seiring waktu dapat diketahui yang banyak diminati oleh masyarakat adalah budidaya hidroponik sayuran dan budidaya anggrek. Maka dari itu hidroponik sayuran dan budidaya anggrek lebih dikembangkan. Budidaya anggrek dimulai pada bulan Januari 2000 sehingga saat ini jenis anggrek yang dibudidayakan di Parung farm antara lain adalah Dendrobium sp, Phaleonopsis sp, Oncidium sp, vanda sp dan anggrek silangan lainnya.

Letak Geografis

Parung Farm berlokasi di Jl. Raya Parung No. 546 Kampung Jati Kecamatan Parung, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Parung Farm memiliki lahan seluas 3.8 ha, berada pada 6026’ Lintang Selatan dan 106044’ Bujur Timur, ketinggian 100 meter di atas permukaan laut dengan topografi permukaan yang relatif datar dengan suhu maksimum 270 – 320C. kelembaban udara rata-rata 70% dengan curah hujan rata-rata 27.44 mm per tahun.

Organisasi Perusahaan

Perusahaan Hidroponik Parung Farm memiliki struktur organisasi sebagaimana perusahan – perushan lain, yaitu terdiri dari Komisaris, Direktur utama, Direktur, Marketing dan Produksi dengan garis kordinasi yang terorganisir yang memiliki tanggung jawab dan wewenag masing-masing., Struktur Organisasi PT Kebun Sayur Segar dapat dilihat padal lampiran I.

Fungsi unit PT kebun sayur segar :

  • Unit sayuran hidroponik menangani masalah yang berkaitan dengan produksi sayuran hidroponik, mulai dari budidaya, penanganan pascapanen hingga pemasaran.
  • Unit anggrek menangani kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan budidaya tanaman anggrek dan pemasarannya.
  • Unit pendidikan dan pelatihan bekerjasama dengan unit sayur dan anggrek menangani kegiatan yang berhubungan dengan pelatihan – pelatihan yang diadakan tiap Sabtu dan Minggu, baik pelatihan tentang hidroponik maupun pelatihan tentang budidaya tanaman anggrek termaksuk kultur jaringan anggrek.

Ketenagakerjaan

Tenaga kerja Parung Farm terdiri dari tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap. Perbedaan antara tenaga kerja ini yaitu dalam pemberian upah (gaji) dan kehadiran. Tenaga kerja tetap dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja tetap harian dan tenaga kerja bulanan. Untuk tenaga kerja tetap harian upah diberikan setiap minggu dengan perhitungan kehadiran setiap harinya. Sedangkan, untuk tenaga kerja bulanan dibayar setiap bulan dengan tidak memperhitungkan kehadiran setiap harinya.

Tenaga kerja tetap harian adalah tenaga kerja yang mendukung proses produksi seperti tenaga kerja untuk persemaian dan tenaga kerja yang bertugas untuk penanaman. Sedangkan, tenaga kerja tetap bulanan terdiri dari pengurus administrasi dan keuangan perusahaan, manager produksi sayuran, pemasaran, pengelola kebun anggrek, mandor greenhouse, supir dan petugas keamanan.

Tenaga kerja tidak tetap adalah tenaga kerja yang bertugas melakukan proses pascapanen, membersihkan tanaman dari daun – daun yang patah, terserang hama, serta standarisasi sayur yang layak packing, penimbangan dan pengepakan. Disamping itu ada juga tenaga kerja borongan. Tenaga kerja borongan ini biasanya diperlukan untuk memperbaiki greenhouse, membersihkan areal di sekitar greenhouse.

Jumlah hari kerja adalah 6 hari kerja dengan jumlah jam kerja 6 hingga 8 jam per hari. Jam kerja dimulai pada pukul 08.00 – 16.00 WIB, dengan waktu istirahat pada pukul 12.00 – 13.00 WIB. Gaji karyawan yang diberikan setiap bulan disesuaikan dengan jabatannya masing – masing.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang dimiliki kebun hidroponik Parung Farm meliputi :

  1. Lahan dan Bangunan

Parung Farm memiliki lahan seluas 3.8 ha yang terdiri dari arel produksi sayur segar sebanyak 5  areal, areal kolam ikan (2 areal), areal persemaiann (4 areal) dan selebihnya adalah rumah peristirahatan, pondok pelatihan (luas 40 m2), bangunan kantor dengan luas 100 m2, musholla dengan luas 15 m2, bangunan bengkel alat-alat pertanian, taman, tempat parkir, laboratorium (150 m2) dan mess untuk tenaga kerja dengan luas 150 m2.

  1. Sarana Administrasi

Parung Farm memiliki fasilitas administrasi seperti alat tulis, telepon, mesin faks, computer, printer dan whiteboard.

  1. Transportasi

Untuk menunjang sarana transportasi di Parung Farm memiliki 5 buah mobil Colt yang dilengkapi mesin pendingin dengan tujuan menjaga kesegaran sayuran selama proses distribusi dengan kapasitas 48 container, setiap container memiliki berat 3 kg dengan kapasitas setiap container sekitar 20 – 30 pack sayuran.

  1. Sarana di Bidang Hidroponik

Sarana yang mendukung diantaranya Greenhouse atau sere, hand sprayer, wadah persemaian (baki, meja atau rak), tangki pengaduk dan sprinkler. Generator sebagai pengganti tenaga listrik apabila PLN padam. Sistem irigasi yang terdiri dari sub sistem penyedian sumber air antara lain pipa utama dan filter. Sub sistem pengangkutan nutrisi pada tanaman antara lain berupa pipa utama, pipa manifold, pipa lateral, emitter dan bak nutrisi. Rockwool dan jelly yang digunakan untuk membungkus bibit tanaman kemudian dimasukkan ke dalam jelly. Selain itu, sarana kebun anggrek meliputi 3 unit rumat net, laboratorium kultur jaringan dan perlengkapan budidaya lainnya.

  1. Sarana Pelatihan dan pendidikan

Keberadaan Parung Farm tidak hanya untuk kegiatan budidaya sayuran dengan hidroponik, tetapi juga mengadakan pelatihan dan pendidikan. Maka dari itu, perusahaan tersebut memiliki fasilitas yang memadai untuk mengadakan penelitian dan pendidikan berupa pondok dengan dukungan sarana lainnya berupa Overhead Projektor (OHP), whiteboard, alat peraga latihan dan ruangan untuk presentasi.

 

Kegiatan – Kegiatan Parung Farm

Kegiatan yang dilakukan oleh Parung Farm antara lain :

  1. Mengembang budidayakan sayuran dan anggrek dengan sistem hidroponik.
  2. Menyelenggarakan kegiatan petihan, penelitian dan penyuluhan mengenai kultur jaringan anggrek dan hidroponik sayuran.
  3. Mengikuti kegiatan pameran untuk lebih memperkenalkan program usaha dengan sistem hidroponik dan juga untuk memasarkan hasil.
  4. Mengembangkan sistem hidroponik yang digunakan di Kebun Sayur Segar Parung Farm antara lain hidroponik substrat, NFT (Nutrient Film Technic), Aeroponik, Deep pond floating raft (Sistem rakit apung), Sifon Top Feeding (pengucuran dari atas), DFT (Deep and Flow Technic), Ebb and Flow (Pasang surut) serta kultur jaringan anggrek.

Tujuan dan Fungsi Lembaga

Parung Farm ini didirikan dengan tujuan memperkenalkan teknik budidaya hidroponik. Oleh karena itu, perusahaan ini mengadakan penelitian sederhana terhadap teknologi yang tepat guna dan pelatihan praktek kerja di lapangan. Teknologi yang digunakan di Parung Farm yaitu NFT (Nutrient Film Technic), Aeroponik, Deep pond floating raft (Sistem Rakit Apung), Sifon Top Feeding (Pengucuran Dari Atas), DFT (Deep and Flow Technic), Ebb and Flow (Pasang surut) dan Hidroponik Sifon.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Budidaya bayam (Amaranthus sp.) yang dilakukan di Parung Farm menggunakan sistem hidroponik  dengan teknik aeroponik. Sebelum dilakukan proses produksi, terlebih dahulu sarana pendukung seperti GH (Greenhouse), jaringan irigasi, nutrisi, benih, media tanam, pompa air (Water pump), pengatur waktu (timer), bak bedengan untuk proses pembesaran tanaman dan penyemaian harus disiapkan. Proses budidaya bayam meliputi kegiatan penyemaian, pembesaran, pemeliharaan, pemanenan, dan penanganan pasca panen.

Penyemaian

Penyemaian benih pada Parung Farrm dilakukan pada media kerikil dengan sistem NFT (Nutrient Film Technique), dengan luas bedengan 1,65 m, panjang bedengan 10 m, ketebalan media (kerikil) 2 cm. benih yang di gunakan yaitu benih dengan Standart Internasional buatan Taiwan dengan merek dagang Known You Seed.

Pada bagian bawah kerikil diberi lapisan pelastik sebagi lapisan kedap air yang berfungsi sebagai penampung nutrisi atau unsur hara yang dialirkan pada bedengan penyemaian tersebut. Sebelum benih bayam ditebar terlebih dahulu media harus dibersihkan dari cendawan setelah itu media dibersihkan dan dialirkan nutrisi dari pipa paralon yang terhubung dengan bak nutrisi atau bak penampung nutrisi utama. Pengaliran unsur hara ini dilakukan dengan pompa air (otomatis), hingga seluruh media basah dan cukup tergenang, maka benih bayam dapat ditebar.

Penyebaran dilakukan secara merata dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Cara ini bertujuan meningkatkan pertumbuhan dan memudahkan bibit yang tumbuh dapat menerima cahaya matahari yang cukup dan merata. Setelah benih ditebar, bedengan ditutup dengan pelastik guna mempercepat perkecambahan dan menghindari serangan OPT. Waktu perkecambahan benih bayam adalah 13-15 hari. Setelah bibit tumbuh dengan baik maka dapat dilakukan pemindahan pada bedengan pembesaran.

Pembesaran

Setelah proses penyemaian selama ± 13-15 hari bibit bayam siap untuk dipindahkan pada bedengan pembesaran dengan ukuran bak bedengan pembesaran 8 x 1 m dengan ketinggian 30 cm dari permukaan tanah. Sebelumnya bibit tersebut telah dibungkus dengan rockwool yang nantinya akan dipindahkan ke bak pembesaran produksi yang menggunakan sistem aeroponik.

Setelah bibit dibungkus dengan rockwool sebagai media, pada bagian pangkal akar, bibit yang telah dibungkus kemudian ditempatkan menggunakan wadah agar-agar yang biasa disebut jelly cup., Setelah itu jelly cup yang telah berisi tanaman bayam ditempatkan pada styrofoam yang terdiri dari 81 lubang dengan jarak per lubang ± 4 cm, diameter lubang disesuaikan dengan ukuran jelly cup. Setelah itu styrofoam diletakan diatas bak pembesaran yang telah dilapisi dengan pelastik yang bertukuan menampung sisa larutan nutrisi yang disemmprotkan pada akar dan dialirkan lagi ke bak penampungan nutrisi  agar nutrisi tidak terbuang cuma-cuma.

Bak pembesran telah dilengkapi dengan sistem irigasi dimana jaringan  irigasi meliputi pipa utama dan pipa sekunder/pipa lateral. Pipa utama menggunakan pipa PE dengan diameter 20  mm yang dihubungkan dengan bak penampungan utama, pompa air, dan alat pengatur waktu penyiraman (timer). Alat pengatur penyiraman ini yang akan mengatur lamanya penyiraman pada akar tanaman yang dapat disesuaikan. Pipa sekunder /pipa lateral menggunakan pipa PE berdiameter 13 mm yang dimasukkan kedalam bak dengan posisi melintang setinggi 10 cm dari dasar bak, dan sepanjang pipa lateral ini dipasang spray jet dengan jarak 75 cm.

Pemeliharaan

Selama masa  penanaman sangat penting untuk melakukan perawatan terhadap tanaman meliputi pengendalian organisme penggangu tanaman dan penyakit tanaman, menjaga kepekatan kandungan unsur hara dalam larutan, dan kecepatan curah/kecepatan volume pengaliran larutan nutrisi.

Pengendalian terhadap OPT dilakukan secara manual tanpa menggunakan pestisida. Kontrol dilakukan secara berkala, pengontrolan ini dilakukan dengan teliti dan teratur sehingga hama penyakit dapat dengan cepat diketahui dan dilokalisir dengan baik.

Pengontrolan terhadap kepekatan kandungan unsur hara sangat penting dilakukan setiap saat. Larutan unsur hara harus memiliki kepekatan sekitar 2 mS/cm dimana kandungan haranya masih terjaga. Kontrol dapat dilakukan dengan menggunakan EC meter atau secara manual dengan melihat keadaan fisik dari larutan pupuk (kekentalan larutan) dan keadaan fisik tanaman (tanaman yang kekurangan nutrisi dapat dilihat dari daun yang mulai menunjukan perubahan warna ”agak kekuning-kuningan”)

Kenaikan pada larutan EC tidak boleh terlalu drastis karena sangat mempengaruhi metabolisme tanaman. Pengaruhnya sangat signifikan pada tanaman dewasa. Penurunan EC yang drastis menyebabkan daun-daunnya menjadi kaku dan sulit tumbuh yang disebabkan kandungan unsur hara terlarut sangat sedikit. Besarnya kenaikan dan penurunan EC harus dapat dijaga seminimal mungkin.

Ketersediaan unsur hara bagi tanaman juga ditentukan oleh derajad keasaman larutan (pH larutan). Derajad keasaman menunjukan tingkat penyerapan unsur hara oleh tanaman. Derajad keasaman/pH yang terlalu tinggi dapat menggangu penyerapan unsur-unsur mikro oleh tanaman. Sedangkan pH yang rendah juga akan menggangu penyerapan unsur-unsur hara makro seperti N,P dan K. Derajad keasaman yang cocok bagi penyerapan unsur hara oleh tanaman adalah 6,3-6,5 (Roberto 2004).

Nutrisi yang digunakan dalam proses produksi di Parung Farm adalah A-B mixed yang diramu sendiri oleh Parung Farm dengan perbandingan 5 ml pekatan A + 5 ml pekatan B dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1 (satu) liter air.

Kecepatan atau debit pengaliran larutan unsur hara harus diperhatikan dengan baik. Pengontrolan dilakukan terhadap alat-alat yang terkait dengan penyiraman seperti kondisi pompa, timer, pipa utama, pipa lateral, filter dan emiter. Semakin pelan debit penyiraman larutan hara maka penyerapan nutrisi terhadap tanaman akan semakin lama dan berpangaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Sistem penyiraman dengan teknik hidroponik dilakukan secara kontinu dan diskontinu. Hasil semprotan membentuk butiran-butiran air yang diatur melalui emiter. Penyiraman dilakukan dengan memerhatikan tingkat keterjangkauan penyiraman sampai ke akar tanaman. Hal ini bertujuan memaksimalkan daya semprot emiter.

Pemanenan

Pemanenan dapat dilakukan apabila tanaman bayam telah memiliki bobot maksimal. Bobot ini didapat apabila daun sudah banyak dan daun termuda sudah memendek atau menjelang tanaman beralih dari fase vegetatif ke fase generatif, atau sesuai dengan permintaan pasar. Apabila tanaman menunjukan adanya inisiasi pembungaan maka panen di anggap terlambat.

Proses pemanenan dapat dilakukan pada pagi atau sore hari antara jam 06.30 – 09.30 dan 15.30 – 16.30. Pemilihan waktu ini dilakukan karena pada waktu tersebut sinar matahari tidak begitu terik sehingga hasil panen tidak mengalami fluktuasi suhu yang berarti. Fluktuasi suhu yang besar dapat menurunkan kadar air dan kualitas hasil panen secara drastis. Proses pemanenan dilakukan secara hati-hati, teliti dan cepat.

Satu meter persegi styrofoam dapat menghasilkan sayuran bayam dengan bobot 1,5 Kg. Pemanenan dapat dilakukan secara merata pada satu lembar styrofoam jika pertumbuhan tanaman baik dan merata. Namun, jika pertumbuhannya tidak merata maka pemanenan dilakukan dengan cara panen pilih. Tanaman yang layak dipanen akan dipanen, sedangkan bagi tanaman yang pertumbuhannya belum optimal/rusak maka ditanam ulang/diganti dengan tanaman baru.

Pengemasan

Sayuran bayam yang telah dipanen kemudian dilakukan pengsortiran untuk memisahkan daun yang kering, kotoran atau daun layu lalu ditempatkan di ruang pendingin (cold storage) dengan suhu 180C selama 2 jam untuk menghilangkan field head (panas lapangan) yang terbawa dari areal produksi agar kesegaran bayam tetap terjaga lalu dilakukan proses penimbangan dan pengemasan setelah itu dimasukan ke cold storage kedua untuk disimpan dan didistribusikan dengan kelembaban 70 – 90%, sehingga dapat tahan dan segar sekitar 10 – 14 hari. Di ruang terbuka tingkat kesegarannya hanya tahan sekitar 3 – 5 hari (Rukmana 1994).

Distribusi dilakukan pada malam hari dengan menggunakan mobil yang telah dilengkapi dengan alat pendingin ruangan, kapasitas 48 contener diman satu contener berisi 20 – 30 pack sayuran agar tidak terjadi fluktuasi. Pasar sasaran dari perusahaan Parung Fram adalah supermarket, Indomart Mall atau pasar-pasar modren lainnya, harga yang ditawarkan Parug Farm terhadap pasar untuk sayuran bayam yaitu Rp.8000/pack.

KESIMPULAN DAN SARAN

 

2.1.   Kesimpulan

  1. Hidroponik merupakan usaha pemanfaatan air dengan maksimal dalam  rangka usaha budidaya pertanian.
  2. Budidaya tanaman dengan sistem hidroponik tidak memerlukan lahan yang subur dan dapat menghemat lahan atau tidak membutuhkan lahan yang luas khususnya dalam usaha budidaya tanaman bayam.
  3. Usaha budidaya bayam dengan sistem hidroponik akan memberikan hasil yang lebih maksimal dibanding dengan sistem konpensional.
  4. Dalam usaha budidaya dengan sistem hidroponik terbagi atas dua yaitu ; hidroponik skala rumah tangga dan hidroponik skala industri, untuk hidroponim skala rumah tangga dapat menggunakan rangkaian pipa yang di buat khusus dengan mempertimbangkan sirkulasi air (Kit), dan untuk skala industri menggunakan bedengan-bedengan yang terbuat dari semen atau kayu.
  5. Pemberian nutrisi lebih diperhatiakan karena tanaman cuman tergantung pada satu sumber nutrisi yaitu nutrisi buatan.

2.2.   Saran

  1. Sebagai sumber nutrisi tanaman sebaiknya tidak menggunakan NPK karena endapan dari bahan tersebut dapat mengepul atau menjadi lumpur sehingga pompa atau jet spray dapat tersumbat.
  2. Usaha budidaya tanaman dengan sistem hidropnik membutuhkan insvestasi yang besar, jadi pemasaran produk pertanian dengan sistem hidroponik sebaiknya menghindari pasar-pasar trsdisional.
  3. Dalam pemberian nutrisi, unsur N lebih banyak di butuhkan oleh tanaman bayam.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2008. Makalah Pelatihan Aeroponik Sayuran Eksklusif. Momenta

 Agrikultur. Jakarta., Tidak dipublikasikan.

Resh H. 1980. Hydroponic Food Production. Newconcept Press. New Jersey.

Roberto K. 2004. How-To Hydroponics Fourth Edition. Futuregarden

Press. New York.

Rukmana R. 1994. Bertanam kangkung. Kanisius. Yogyakarta.

Sudarmodjo. 2008. Hidroponik. Parung Farm. Bogor., Tidak dipublikasikan.

Susila A. 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Departemen Agronomi dan

Hortiikultura IPB. Bogor.

Sutiyoso, Yos. 2003. Aeroponik Sayuran Budidaya dengan Sistem Pengabutan.

Penebar Swadaya. Jakarta.

Suwandi. 2009. Menakar kebutuhan Hara Tanaman Dalam Pengembangan

Inovasi Budidaya Sayuran Berkelanjutan. Pengembangan Inovasi Pertanian. Bogor.

LAMPIRAN – LAMPIRAN

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: